Kisah Romantika Ibu Negara

Berawal dari Arini Kumara yang mendapat tugas menggarap suatu rangkaian pertunjukan dengan tema patriotisme. Dia lalu mengajak Christian Bong untuk mengembangkan gagasan dan konsep story telling ini. Keduanya klop dan berambisi mengemas karya ini dengan sebaik-baiknya.

Arini Kumara dan Christian Bong lantas membuat suatu konsep pertunjukan musik yang mengangkat suatu kisah bersejarah untuk dituangkan ke dalam musik populer. Mereka ingin karyanya ini bisa dinyanyikan dengan iringan instrumentasi yang umum dalam format band. Juga dapat dibawakan secara kasual dengan iringan musik pop dengan lirik sederhana, tetapi tetap diharapkan dapat menyentuh hati dan membuka pikiran para pendengarnya.

Hasilnya kemudian adalah Cerita Fatmawati, yang sempat ditampilkan dalam sebuah pertunjukan musikal pada tanggal 10 Agustus 2014 di Galeri Indonesia Karya, Jakarta.

Cerita Fatmawati ini mengangkat cerita romantika di balik kemerdekaan Republik Indonesia dari perspektif Fatmawati – yang mengambil setting sejak ia bertemu Ir. Soekarno hingga memutuskan pergi meninggalkan istana.

“Selain sebagai ibu negara pertama dan penjahit bendera Sang Saka Merah Putih, beliau juga adalah perempuan yang teguh pada pendirian dan berani mengemukakan pendapatnya,” ungkap Arini Kumara dkk mengenai sosok Fatmawati. “Kisah ini juga mengangkat sisi romantisme yang terjadi di balik kisah sejarah kemerdekaan Indonesia.”

Fatmawati bersama Ir. Soekarno – Foto dok. Intisari

Sembilan komposisi orisinil digubah khusus untuk mendukung jalan cerita di atas. Seluruh materi musiknya lalu direkam dalam format band oleh tujuh musisi Indonesia berbakat. Mereka adalah Cindy Clementine (biolin), Arnold Pontoh (piano), Evan Asher (gitar akustik dan gitar elektrik), Arini Kumara (kontrabas), Reza Bima (drum), Christian Bong (vokal) dan Monica Dyah Paramitha (vokal).

“Kami memang sengaja mengadaptasi konsep opera yang diterapkan di dalam musik populer,” jelas mereka dalam catatan pinggirnya. Semua lirik lagu dalam Cerita Fatmawati terinspirasi dari beberapa buku yang ditulis secara ringan dan mudah dicerna sehingga pendengar dapat menangkap isi cerita dengan mudah.

Pada tahun 2018, MusiCater Indonesia bersama demajors memproduksi album Cerita Fatmawati sebagai salah satu bentuk seni dan hiburan yang mampu bercerita mengenai sejarah Indonesia melalui medium musik populer. Album Cerita Fatmawati ini lalu diedarkan dalam format CD oleh demajors sejak 4 Maret 2018.

Cerita Fatmawati CD (DIMI-628)
Release Date: March 4, 2018

Cerita Fatmawati yang bisa digolongkan sebagai album konsep ini didominasi oleh irama musik pop yang syahdu dan tenang. Di sela-sela itu masih terdengar nuansa musik jazz dan swing yang ringan, serta selipan nada-nada ala opera, klasik hingga keroncong.

Mendengarkan album ini sontak kita seperti sedang disuguhi kisah biografis Fatmawati dalam salah satu fase kehidupannya yang paling romantis, heroik, getir, sekaligus sentimentil. Komplit dengan latar musikal yang dibangun secara pas dan dramatis.

Mari kita simak satu-persatu lagu sesuai urutannya:

1. “Fatima” (Musik & Lirik oleh Arini Kumara)
Lagu pembuka ini mengisahkan cerita singkat tentang siapa itu Fatmawati beserta latar belakangnya, hingga bagaimana ia bisa berkenalan dengan Ir. Soekarno. Dibuka oleh bait “Namaku Fatima / Asalku Bengkulu…” hingga bertemu dengan “orang hebat yang banyak ilmunya” yang memanggilnya dengan nama Fatmawati.

2. “Aku Dilamar Bapakku” (Musik & Lirik oleh Arini Kumara)
“Hari itu bapak datangiku / Katanya mau meminangku…” begitu pengakuan Fatmawati atas Ir. Soekarno selaku bapak angkat yang kemudian datang melamarnya untuk menjadi istri ketiga. Fatmawati tak kuasa menolak sebab “Dia adalah sosok idola / Bapak yang penyayang lagi rupawan…”

3. “Tunggu Aku Fat” (Musik & Lirik oleh Arini Kumara)
Tembang ini mengurai masa ketika Ir. Soekarno diasingkan sehingga harus terpisah dengan Fatmawati yang telah setuju untuk dinikahi tetapi tidak mau menjadi yang kedua, setelah rakyat dan bangsa Indonesia. Dia lalu diberi pengertian: “Walau engkau penyejuk jiwaku / Tapi rakyat pun membutuhkanku / Yakinlah aku tetap menunggu / Aku akan kembali untukmu…”

4. “Tak Ingin Ku Menunggu” (Musik & Lirik oleh Arini Kumara)
Ini fase LDR di mana Ir. Soekarno menikahi Fatmawati secara jarak jauh melalui sepucuk surat. Baris pertama “Fatma kusayang / Telah tiba saatnya / Janji yang lama tlah kupenuhi untukmu…” langsung dibalas dengan jawaban, “Bapakku sayang / Tlah kuterima suratmu / Walau kau jauh kupenuhi pintamu…”

5. “Menjahit Merah Putih” (Musik & Lirik oleh Christian Bong)
Lagu ini menggambarkan salah satu momen paling patriotik dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu kisah pembuatan bendera pusaka Sang Saka Merah Putih di era penjajahan Jepang: “Bendera merah putih / Merah darah yang suci / Bukanlah lambang matahari…”

6. “Indonesia Raya” (Musik & Lirik oleh Wage Rudolf Supratman)
Ini tentu saja lagu kebangsaan Indonesia dalam iringan solo biolin, persis seperti pertama kali diperdengarkan oleh Wage Rudolf Supratman. Terdengar gagah, anggun, dan bikin merinding.

7. “Ibu Negara” (Musik & Lirik oleh Christian Bong)
Tembang ini menggambarkan keanggunan ibu negara pertama Indonesia, Fatmawati. Itu sudah tergambar jelas dari baris pertama: “Pasir yang membentuknya / Kayu yang menopangnya / Kebaya dalam cermin / Melihat sang ibu negara…”

8. “Bumiputera Soekarno” (Musik & Lirik oleh Arini Kumara)
Kali ini menceritakan cinta kasih Ir. Soekarno dan Ibu Fatmawati terhadap anak-anak mereka. Penuh pesan, harapan dan amanah. Apalagi pada baris ini: “Putra putriku yang kusayang / Penerus amanat bangsa / Jadilah insan yang kuat / Kau hadir menabur asa…”

9. “Aku Seorang Pecinta” (Musik & Lirik oleh Arini Kumara)
Tembang ini menceritakan momen ketika Ir. Soekarno meminta izin untuk menikah lagi, namun ditolak keras oleh Fatmawati karena ia sangat menentang praktek poligami. Di sini sisi perempuan yang teguh pendirian itu bersaksi: “Aku tak rela mas / Tak ada pilihan / Takkan kubiarkan cintaku terbagi…”

9. “Jalan Siwijaya” (Musik & Lirik oleh Christian Bong)
Ini akhir Cerita Fatmawati.
Perempuan yang sangat menentang poligami itu akhirnya memilih berpisah dan keluar dari istana, lalu memutuskan untuk kembali ke rumah: “Ke Jalan Sriwijaya / Ku akan mencoba melupakanmu / Wahai pangeran / Wahai permaisuriku… Nusantara ini milikmu / Untuk selamanya…”

Album Cerita Fatmawati bisa didapatkan melalui situs demajors.com, demajors App, maupun di seluruh jaringan (at)demajors.

About Demajors News

Editorial Board at Demajors News Room.

View all posts by Demajors News →